PT.Rifan Financindo Yogyakarta
PT.Rifan Financindo Yogyakarta |
| AS-China Kisruh, Harga Emas Melorot | PT Rifan Financindo Posted: 25 May 2020 07:24 PM PDT PT Rifan Financindo - Harga emas mengalami tekanan di tengah ketegangan Amerika Serikat dan China yang siap meletup seiring penyusunan rencana undang-undang (RUU) keamanan nasional. Berdasarkan data Bloomberg, harga emas Comex untuk kontrak Agustus 2020 mencapai US$1.743,10 per troy ounce atau turun 0,59 persen pada Senin (25/5/2020) pukul 18.29 Waktu New York atau Selasa (26/5/2020) pukul 05.29 WIB. Sementara itu, harga emas di pasar spot turun 0,3 persen menjadi US$1.726,75 per troy ounce. Di sisi lain indeks dolar terpantau 99,86. Indeks ini mengukur kekuatan mata uang dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia lainnya. Level harga emas hari ini terpantau melandai dari posisi tertinggi selama satu bulan terakhir. Harga emas Comex tercatat mencetak level tertinggi pada 15 Mei 2020 di posisi US$1.756 per troy ounce. Monex Investindo Futures menilai pergerakan harga emas melandai setelah hubungan AS-China memanas. Harga emas di awal sesi kemarin mencetak posisi terendah di US$1.725,79 per troy ounce. Dua negara adikuasi itu bersitegang setelah Presiden Donald Trump menuding China tidak becus menangani wabah virus corona, wabah yang akhirnya menyebar ke seluruh dunia dan melumpuhkan perekonomian global. AS juga mengancam China yang berencana mengatur keamanan Hong Kong lewat RUU Keamanan Nasional. Secara umum, RUU yang diusulkan China itu sebagian akan melarang kegiatan separatis dan "kegiatan subversif" serta campur tangan asing dan "terorisme" di Hong Kong. "Walaupun belum selesainya RUU Hong Kong oleh parlemen Tiongkok, memberikan harapan pasar bahwa ketegangan diantara kedua negara dapat mereda bila RUU tersebut gagal disepakati," tulis analis Monex seperti dilansir dari publikasi risetnya. Harga emas berpeluang turun dengan menguji support atau batas bawah penurunan di rentang US$1710 s.d US$1.717 bila bergerak ke bawah level $1724. Sebaliknya level resisten pada kisaran US$1737 s.d US$1742. Sumber: Market.bisnis PT Rifan Financindo | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Adu Kuat INDF dan ICBP, Mana yang Lebih Tangguh? | PT Rifan Financindo Posted: 25 May 2020 05:57 PM PDT PT Rifan FInancindo - Emiten konsumer PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF) dan entitas anaknya PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) secara bersamaan merilis data laporan keuangannya untuk kuartal pertama tahun 2020. Dikutip dari laporan keuangan konsolidasian per 31 Maret 2020, di laman keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), baik Indofood sebagai induk usaha, dan Indofood CBP sebagai entitas anak sama-sama mencetak pertumbuhan kinerja pada periode tersebut. Namun, menariknya, Indofood CBP tampak lebih tangguh dibandingkan dengan induk usahanya. Produsen Indomie tersebut berhasil membukukan kenaikan laba bersih 48,26 persen secara tahunan, dengan perolehan senilai Rp1,98 triliun pada tiga bulan pertama tahun ini. Memang, pertumbuhan majemuk tahunan (CAGR) Indofood CBP selama empat tahun belakangan berada di level 16 persen. Kemudian, persentase kenaikan secara year-on-year pada kuartal pertama tahun ini menjadi yang paling tinggi sejak tahun 2017 silam. Ditambah lagi, sejak tahun 2018, perseroan konsisten mencetak pertumbuhan laba double digit. Sementara itu, pertumbuhan laba induk perusahaan Indofood tampaknya tak secemerlang entitas anaknya, meskipun tetap mencetak peningkatan. Pada kuartal ini, perseroan hanya berhasil membukukan kenaikan laba 4,03 persen secara tahunan. Torehan labanya pun tidak lebih baik dibandingkan dengan entitas anaknya, yakni hanya sebesar Rp1,4 triliun. Anthoni Salim, Direktur Utama dan Chief Executive Officer Indofood dan Indofood CBP mengatakan, di tengah ketidakpastian global, perseroan tetap tangguh dan mampu mencatatkan pertumbuhan pendapatan dan laba pada kuartal pertama tahun 2020. "Kami akan terus memonitor dan menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi, serta senantiasa mengelola bisnis kami secara berhati-hati dan tetap dapat bersaing di pasar," ungkap Anthoni dikutip dari rilis persnya, Jumat (22/5/2020). Di lantai bursa, harga saham Indofood maupun Indofood CBP serentak mengalami koreksi sebelum laporan keuangan kuartal pertamanya dirilis. Laju saham emiten berkode saham INDF dan ICBP tersebut masing-masing melemah 4,81 persen dan 3,03 persen pada penutupan pasar Rabu (20/5/2020) lalu. Kendati demikian, benar kata pepatah di dunia saham kalau kinerja fundamental akan tercermin dari pergerakan sahamnya. Secara year-to-date, saham INDF sudah terkoreksi 19,44 persen, sedangkan entitas anaknya ICBP mengalami koreksi yang lebih kecil yakni sebesar 13,9 persen.
PILIHAN ANALIS Menurut konsensus Bloomberg, 27 dari 33 analis merekomendasikan investor untuk membeli saham ICBP, dan 25 dari 28 analis merekomendasikan investor membeli saham INDF. RHB Sekuritas, misalnya, menyematkan rekomendasi overweight dari netral untuk sektor konsumer dengan saham pilihan yakni INDF. Analis Michael W. Setjoadi mengatakan iklim industrinya yang defensif di tengah situasi PSBB yang sudah berjalan lebih dari dua bulan membuat sekuritas lebih merekomendasikan INDF dibandingkan ICBP. "Kami lebih menyukai INDF, karena diskon besar untuk ICPB dan memanfaatkan prospek harga CPO yang lebih tangguh," tulisnya dalam riset, Jumat (8/5/2020) lalu. Sementara itu, Mirae Asset Sekuritas pun masih memandang positif sektor konsumer di tengah kondisi perlambatan ekonomi saat ini. Namun, analis Mimi Halimin mengatakan pihaknya tetap memantau proyeksi pendapatan dan laba bersih dengan ekspektasi kegiatan ekonomi akan kembali normal setelah hari raya Idulfitri. "Kami juga percaya bahwa saham defensif dengan eksposur pada pasar domestik akan tetap menjadi investasi yang baik di tengah meningkatnya volatilitas pasar. Bahkan, dari perspektif penilaian, perusahaan konsumer masih menarik," tulis Mimi dalam risetnya, Jumat (15/5/2020). Karenanya, Mimi secara bersamaan merekomendasikan beli saham INDF dan ICBP dengan target harga Rp8.600 dan Rp11.900. Hal ini juga mempertimbangkan pertumbuhan INDF dan ICBP dari sisi earning per share (EPS) masing-masing 5,2 persen dan 5,4 persen secara tahunan dan price-to-earning ratio (PER) sebesar 11,2 kali dan 21,3 kali estimasi pada tahun 2020. Sumber: Market.bisnis PT Rifan Financindo | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| You are subscribed to email updates from PT.Rifan Financindo Yogyakarta. To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. | Email delivery powered by Google |
| Google, 1600 Amphitheatre Parkway, Mountain View, CA 94043, United States | |
Comments
Post a Comment